Sunday, 15 April 2018

“Living Out Your Faith with Joy – 6” (Flp. 2:19-30)


“Karena tak ada seorang padaku, yang sehati dan sepikir dengan dia dan yang begitu bersungguh-sungguh memperhatikan kepentinganmu; sebab semuanya mencari kepentingannya sendiri, bukan kepentingan Kristus Yesus.”
Filipi 2:20-21

Sir Edmund Percival Hillary (1919-2008) adalah seorang pendaki gunung. Ia menjadi terkenal karena ialah yang pertama kali menaklukkan Gunung Everest, puncak tertinggi Pegunungan Himalaya. Edmund menginjakkan kakinya di puncak Gunung Everest pada tanggal 29 Mei 1953, diketinggian 8.850 meter. Edmund dapat tiba di Puncak gunung Everest dengan selamat bukan karena ia mampu mendaki seorang diri melainkan karena ada 150 orang pendaki professional yang menyertainya dan 750 orang pendukung yang mempersiapkan perbekalan serta seorang pemandu lokal dari Nepal yang bernama Tenzing Norgay. 
Sekalipun Edmund adalah seorang pendaki gunung yang sangat berpengalaman namun ia masih perlu didukung oleh satu tim yang solid untuk mencapai puncak Gunung Everest. Begitu pula Paulus, seorang rasul yang sudah sangat berpengalaman dengan integritas yang tidak perlu diragukan dan tingkat kedewasaan rohani di atas rata-rata tetap masih memerlukan pertolongan orang lain. Paulus bisa bertahan menghadapi penderitaan di penjara baik secara fisik maupun mental karena ada Timotius dan Epafroditus yang dengan setia menolong, menguatkan, mendoakan, melayani dan menemaninya.
Paulus tanpa ragu dan dengan segala kerendahan hati menyampaikan penghargaan dan pujiannya Timotius dan Epafroditus kepada jemaat di Filipi melalui surat yang ditulisnya sebagai rekan kerjanya yang sehati sepikir (20), tidak mementingkan diri sendiri (21), setia (22) bahkan rela mengorbankan nyawanya demi pekerjaan Kristus (30).
Gereja sebagai tubuh Tuhan Yesus Kristus bisa bertahan dan bertumbuh bukan karena pekerjaan satu orang melainkan diperlukan kesatuan dan kerja sama dari seluruh jemaat yang bahu membahu bekerja bagi Tuhan Yesus Kristus sebagai Kepala gereja-Nya. Gereja bisa berjalan sesuai dengan panggilannya hanya jika jemaat di dalamnya bisa saling menolong, saling menghargai, saling melayani dan saling merendahkan hati satu dengan yang lainnya. Mari kita tingkatkan kebersamaan kita membangun gereja-Nya demi kemuliaan-Nya.

Sunday, 8 April 2018

“Living Out Your Faith with Joy – 5” (Flp. 2:12-18)


“Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir”
Filipi 2:12

Simon Stylites, seorang biarawan dari Syria duduk di atas pilar setinggi lima puluh kaki untuk menghindari kontak dengan dunia. Anthony, seorang pertapa Mesir menjalani sebagian besar hidupnya di padang pasir. Baik Simon maupun Anthony meyakini menjadi seorang rohaniawan artinya menjauhkan diri dari kehidupan dunia. Gaya hidup seperti ini dikenal dengan istilah asketisme yang bercirikan hidup berpantangan dengan kenikmatan-kenikmatan duniawi, dengan tujuan untuk mencapai maksud-maksud rohani. Dalam taraf tertentu para penganut asketisme ini rela menyiksa dirinya dengan cara tidur di atas ranjang paku sebagai bukti penyangkalan diri.
Sejarah membuktikan bahwa asketisme telah dipraktekan oleh berbagai agama antara lain agama Budha, agama Hindu, agama Jaina, agama Yahudi bahkan agama Kristen. Memasuki abad kelima orang-orang Kristen mulai menganut asketisme dengan memisahkan diri dari dunia. Para biarawan dan biarawati dipisahkan melalui tembok gereja yang tinggi agar tidak tercemar oleh dunia. Ide seperti ini sama sekali bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Paulus kepada jemaatnya di Filipi di awal-awal gereja didirikan. 
Rupanya dengan berjalannya waktu gereja mulai menyimpang dari panggilannya. Tidak salah dan sudah seharusnya orang Kristen menarik dirinya untuk berduaan dengan Allah melalui doa dan pembelajaran firman Tuhan, namun itu semua dilakukan bukan untuk menjauh dari dunia melainkan justru untuk melengkapi dirinya bagaimana seharusnya menjalani kehidupan di dunia ini. Bagi Paulus menjadi orang Kristen artinya terjun ke dalam dunia untuk menjadi terang bagi dunia sehingga Kristus diberitakan baik secara verbal maupun tingkah laku (15). 
Sebagai orang Kristen kita dipanggil untuk menjalankan perintah-perintah Allah dengan takut dan gentar (12) dengan tidak bersungut-sungut (14) melainkan dengan penuh kerelaan hati untuk berkorban (17) dan dengan penuh sukacita (18).